Sebuah Refleksi Perubahan

oleh Muhammad Sagan

Hari Pendidikan Nasional diperingati setiap tanggal 02 Mei untuk mengenang jasa dan hari lahir Ki Hajar Dewantara sebagai Bapak Pendidikan Nasional. Seperti biasa, peristiwa ini ditandai dengan banyaknya postingan atau hashtag soal pendidikan di timeline media sosial setiap orang di jagat dunia maya. Biasanya Hardiknas hanya menjadi ajang saling komentar posting dan tak ada banyak persoalan pendidikan yang berubah ataupun terpecahkan. Namun, ada yang unik pada Hardiknas kali ini. Terkhusus pada kegiatan belajar-mengajar siswa di sekolah. Seluruh kegiatan belajar di pendidikan formal dipindahkan ke rumah masing-masing siswa. Begitupun guru-guru berpindah mengajar lewat media sosial secara jarak jauh.

Kejadian ini mengakibatkan perubahan pola belajar siswa maupun pola guru mengajar. Saat ini tidak hanya guru sekolah yang menjadi sumber ilmu bagi siswa di rumah, tapi juga orangtua. Tidak sedikit orangtua yang mengeluhkan beratnya mengurus anak dari pagi hingga tidur kembali. Belum lagi urusan pekerjaan, ditambah harus membantu anak menyelesaikan tugas sekolah yang belum tentu orangtua pahami. Boleh jadi hal ini terjadi karena kebiasaan kita sebagai orangtua yang jarang memahami kesibukan anak di sekolah. Sebaliknya, bahkan sering memberi perintah untuk belajar tanpa kita paham kesulitannya. Mungkin saja, ini adalah suatu tamparan bagi kita selaku orangtua yang hanya sering memberikan perintah belajar pada anak, namun kita sendiri tidak ingin tahu seberapa sulit diri mereka membangun keinginan belajarnya. Pada akhirnya kemarahan orangtualah senjata pamungkas bagi persoalan ini. Lelahnya orangtua setelah bekerja banting tulang adalah alasan primadona untuk membuat anak menyadari dirinya harus belajar dengan keras. Kewajiban mencari uang untuk biaya pendidikan menjadikan kita seorang pengantar jemput anak yang hanya sampai pada pintu sekolahan, bukan seorang pembelajar bersama.

Sudah saatnya pendidikan dikembalikan kepada fitrahnya, yaitu belajar dari rumah, bersama orangtua dan keluarga di rumah. Rumah adalah tempat pertama kita belajar sekaligus membangun pondasi pemikiran setiap manusia. Orangtua haruslah menjadi pembimbing, pembombong dan pemomong bagi anak-anaknya, agar tidak ada lagi krisis karakter bahkan krisis figur contoh bagi anak-anak kita. Bila kita sebagai orangtua mengeluh, “Capek ya ngasuh anak seharian di rumah, belum lagi harus bantuin ngerjain PR dari sekolah”, semestinya kita kembali bertanya pada diri sendiri, hal apa saja yang sudah saya lewatkan dalam perkembangan anak saya?

Tidak jarang kita menemukan anak yang tidak bisa memasak nasi ataupun membersihkan rumah padahal jenjang sekolahnya sudah tinggi, tidak mau berbagi dengan kawannya padahal keadaannya berlebih. Penting sekali untuk belajar tentang kepekaan sosial dan lifeskill/ kecakapan hidup. Kita mesti bersyukur saat ini. Bersyukur dengan kondisi, kepekaan sosial anak-anak dapat dengan mudah terasah, karena media untuk saling bantu sesama sudah semakin banyak. Kondisi ini akan mengasah kemampuan empati anak-anak, bahkan setiap orang. Kecakapan hidup pun mulai terlatih, anak-anak jadi lebih sering dan terbiasa berinteraksi dengan orangtua sehingga seharusnya bisa mengurangi frekuensi berjibaku dengan gadget. Mereka jadi terlatih mengerjakan pekerjaan rumah yang sebelumnya hanya dikerjakan oleh orangtuanya. Banyak hal yang dapat dilakukan seperti belajar memasak nasi, belajar menanam sayuran, membuat pupuk sendiri, dan pelajaran dasar lainnya.

Hardiknas kali ini mengembalikan kita pada fitrah pendidikan yang semestinya, mengembalikan manusia pada tugas manusia yang sesungguhnya, serta lebih menghargai suatu proses belajar tiap manusia. Allah ingin kembali mengingatkan bahwa anak-anak kita adalah titipan-Nya, mereka tidak dititipkan kepada guru atau pembimbing les, tapi mereka dititipkan kepada kita sebagai orangtuanya. Orangtua bukan saja sekolah pertama bagi anak, namun adalah sekolah yang utama dan tak dapat tergantikan oleh siapapun

Sekali lagi kita ditantang untuk lebih menghargai sebuah proses belajar, bukan hanya melulu tentang takhayul yang sering kita temui di sekolahan setiap hari (nilai, ranking, pengakuan di atas kertas, dsb). Mari perbanyak refleksikan diri, terimakasih Ibu dan Ayah.