Himelnah Post 1

Pelesiran ke Sisi Lain Kota Kembang

Beberapa yang kuingat saat menyeruput sebotol air di pagi hari hanyalah joging pagi yang tak pernah ada waktu untuk kulakukan. Kesal memang, tapi beruntung, siang ini ku agendakan untuk menjumpai daerah perkampungan yang rumornya akan menjadi kampung wisata. Pikiranku mengatakan “Apa?, Perkampungan?, Tapi letaknya di tengah kota, lah apanya yang kampung?”. Kupikir akan sama dengan julukan “kampung tengah kota” yang dahulu pernah kusambangi di akhir kuliah kerja nyata. Kali ini berbeda, jauh sekali, aku terkagum dan tak percaya.

Masih di Bandung, masuk ke Jalan Sunda aku dikejutkan dengan gapura yang aneh dengan banyak rimbunan pohon-pohon rambat dan bonsai. Diiringi warna-warnian yang mencolok dan tak pudar memaksaku untuk masuk lebih dalam. Benar saja, “gang senggol bacok” ini membuatku kesulitan untuk masuk dan berkelok dengan motorku yang memiliki spion lebar. Untungnya aku sudah terlatih dahulu, bahkan dengan gang senggol yang lebih menyenggol dan membacok jauh daripada ini.

Kawanku sudah menunggu di tempat dan mengajakku berkenalan dengan tiga orang maestro. Ada pak Agus, bu Tini dan om Ibo. Pak Agus adalah seorang direktur yang mirip dengan Soesilo Ananta Toer, beliau tak bisa melepaskan genggamannya dari sapu lidi dan ijuk. Bu Tini bertugas sebagai fasilitator sekaligus seorang yang turut andil mencetus gerakan “Kang Pisman” dari pemerintah kota. Om Ibo adalah kepala suku yang mungkin akan menjabat sebagai ketua RW seumur hidup daerah ini. Ketiganya bak tri masketir yang memiliki satu tujuan sama, mengurangi intensitas sampah yang akan diangkut ke TPA.

Singkatnya dari mulai praktik uji coba pembuatan kompos, teknik biopori, taman gantung, kerajinan tangan, teknik fasilitasi, pendekatan kutural sampai dengan mural unik yang lucu sudah mereka rasakan pahit asam garamnya. Seketika kampung yang dahulu sering banjir dan banyak dikambing hitamkan karena banyaknya kriminil yang hilir mudik ketika dikejar massa ini sekarang menjadi sorotan beribu mata di media massa. Proses jatuh bangun yang diceritakan hampir tiga jam itu belumlah cukup untuk menjelaskan betapa sangat pedulinya ketiga pahlawan ini pada lingkungannya. Kisah itu diramu khusus dengan racikan gorengan-sambal, goyobod dan tentunya suara hujan gemericik yang membuat suasana semakin hangat.

Banyak hal yang kudapat di sini. Satu hal yang paling berkesan bagiku. Membantu orang lain boleh saja, asal jangan terus-menerus menyuapi. Ada kalanya kita mesti mawas diri untuk tahu batas. Batasan untuk membantu dengan tidak menyuapi. Batasan untuk memberi dengan tidak menghakimi. Semua individu punya potensinya masing-masing, bahkan ketika sudah menjadi populasi. Mereka punya hak untuk didengar dan dibantu. Apa itu tugas fasilitator?, Bagaimana tugas seorang direktur dengan sebatang sapunya?, Apa pula itu kepala suku yang dengan halus dalam mengajak masyarakatnya untuk memiliki gaya hidup zerowaste?.

Ah… Bercengkrama lah langsung dengan mereka para maestro ini. Aku hanya anak ipa yang kebetulan lewat dan ingin lebih banyak belajar tentang alam dalam hiruk pikuk kota yang kelam. Ini.